“Merusak kepercayaan, sama seperti menyentuh embun. Sebab dengan menyentuhnya, hanya akan membuatnya tiada.”
0 likes
Author detail
This author page remains available for legacy URL compatibility, including alias-backed slug support.
Quotes
Showing 61-80 of 85
“Merusak kepercayaan, sama seperti menyentuh embun. Sebab dengan menyentuhnya, hanya akan membuatnya tiada.”
0 likes
“Siapa Aku? Klaim kebenaran menggurita. Mimpi membunuh tidurnya. Baju Tuhan berhamburan. Sabda seharga jajanan. Panas melahap sepiring api. Gelap lupa hitamnya sendiri. Bintang menjajakan jum...”
0 likes
“Ketika feminisme justru dianggap sebagai sebuah ancaman, pengertian demikian hanya akan semakin menguatkan sinisme terhadap kemerdekaan peradaban, bahwa keadilan adalah bunga tidur di bumi i...”
0 likes
“Mana yang lebih pahit; Kopi tanpa cumbuan gula, atau rindu yang dibiarkan gigil tanpa nama?”
0 likes
“Rindu tidak tersusun dari batas peta. Tetapi, dari seberapa luas kau mengingatnya. Rindu tidak diciptakan oleh jarak. Ia lahir sebab keberadaan. Sedekat apapun jarak kalian, selama tidak per...”
0 likes
“Dengan memagut secangkir kopi, aku berlindung dari godaan kesepian yang merasuk.”
0 likes
“Puncak kesepian paling tinggi tidak dirasakan oleh dia yang belum mencintai siapa-siapa. Tetapi, pada mereka yang mengaku saling cinta, namun sudah tidak lagi saling merindu.”
0 likes
“Rindu: Seluas-luasnya ruang persembunyian memeluk kehilangan.”
0 likes
“.. adalah kopi, miniatur surga yang terangkum dalam secangkir rasa yang bernyawa.”
0 likes
“Kita semangat mengaku cinta kepada Tuhan, sementara kapitalis terhadap nikmat dan kebaikanNya. Jika beragama sebatas dianggap sebagai transaksi membeli surga, lantas, di mana letak kesaksian...”
0 likes
“Kopi yang baik adalah kopi yang bisa menjadikan dirimu lebih tangguh dari lidahmu, dalam menanggung kepahitan.”
0 likes
“Kusimpan semua bunyi dalam sunyi. Biar kaurasa, bahwa diam adalah suara seisi dada. Duka memang bukan perkara mata, tetapi melihat kauberkhianat dengan mesra, mulutku jadi bernafsu untuk ber...”
0 likes
“Puasanya orang kasmaran, tak mengenal kata berbuka dan lebaran. Mereka menyebutnya: Rindu.”
0 likes
“Di antara banyak dia yang bermukim di dadamu, aku memilih satu: Dia yang telah menjadikanmu bilah dari tubuhku. Dia yang karenanya, nutfah rindu ditiupkan di jauhmu. Dia yang karenanya, buah...”
0 likes
“Seisi kepalaku penuh dengan kau. Membeku dalam ingatan. Membatu dalam kenangan. Kau yang memaksaku tinggal di sana. Kau yang kekal di dalamnya. Kau: Masa lalu.”
0 likes
“Lewat cinta yang kau simpan di matamu, kau hanya menjanjikan dia sebuah perpisahan.”
0 likes
“Pemimpin yang lahir dari serangan fajar, kelak, kursinya hanya akan jadi pasar.”
0 likes
“Lewat kata, aku melihat telaga di matamu. Darinya, aku mendengar arus di pipimu. Olehnya, aku merasakan ramai kesepianmu. Katanya, dunia ini sudah luber akan kata-kata, dan itu; Iya. Tetapi,...”
0 likes
“Siapa yang sanggup membebaskan diri dari rasa sakit? Bahkan, saat membenci dan menyakiti seseorang sekali pun, hatimu tetap saja diborgol oleh rasa sakit.”
0 likes
“Kekasih, pernah adalah kata paling musibah, perintah yang menghantarkanmu kepada punah. Kekasih, pernah adalah denyut paling wabah, titah yang memenjarakanmu ke dalam musnah. Kekasih, setela...”
0 likes